Entah sudah berapa lama tak ada postingan baru untuk blog ini. Semangat menulisku rasanya menguap bersama kepergiannya. Bahkan untuk tulisan kali ini aku harus memaksakan diri. Awalnya aku tak ingin berbagi. Cukup antara aku dan dirinya saja kenangan manis itu terasa. Hingga kuingat ucapannya setelah mengunjungi blogku,’ teruslah menulis dan buatlah sebuah buku.’ Teruslah menulis.. Itulah keinginan lelaki itu. Lelaki yang biasa kupanggil Bapak, yang mengalirkan darahnya di tubuhku. Selama hidupnya, keinginan dirinya untuk hidupku begitu tinggi, hingga kekecewaannya terasa ketika aku memilih jalanku sebagai Ibu Rumah Tangga. Matanya menerawang dan berkabut setiap kali ia utarakan kekecewaan hatinya itu. Dan aku (yang mewarisi jiwa pemberontak dari mama) cuma tersenyum lebar, tak bergeming dengan jalan hidup pilihanku.
Mama dan Bapak berpisah ketika aku masih kanak-kanak setelah sebelumnya melalui waktu yang dingin dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dalam masa-masa perang dingin itulah, kedekatanku dengan Bapak tercipta. Jika aku mengingat masa kecilku, sosoknyalah selalu hadir dalam setiap keping peristiwa yang tersimpan. Bapak menemaniku tidur setiap malam, dengan rutinitas mendongeng sebelum tidur. Membacakan cerita wayang dari serial wayang di surat kabar yang diklipingnya dengan telaten. Dari situlah aku mengenal nama tokoh-tokoh pewayangan, termasuk Sembadra dan Srikandi. ‘Aku nggak mau jadi Sembadra!’ ujarku dengan keras suatu malam ketika Bapak mengatakan kelak aku harus berbudi pekerti seperti Sembadra. ‘Kenapa?’ tanya Bapakku. ‘Lelet!’ aku menjawab sekenanya. ‘Aku Srikandi aja ah,’. Bapakku tertawa,’Hatimu terlalu lembut untuk Srikandi,’. ‘Trus aku apa dong..,’ aku mulai merajuk. Bapak terdiam seolah berpikir, lalu katanya,’Kamu adalah keduanya.’
Bapak sangat setia padaku dan aku juga sangat tergantung padanya. Setiap malam tanpa protes Bapak menggosok punggungku. Sebuah kebiasaan yang kadang masih diteruskan oleh suamiku hingga kini. Aku bahkan tidak bisa tidur jika Bapak tidak ada disampingku. Ketika tengah malam aku terbangun dan kudapati dirinya tidak ada, aku akan berteriak memanggilnya sekuat tenaga. Lalu dia menyahutiku dari ruang kerjanya dengan jawaban yang sama, ‘Ya Ndhuk, bentar lagi Bapak selesai.’ Jika sedang tak sabar aku akan menyusul ke ruang kerjanya dengan terkantuk-kantuk. Lalu ndelosor tertidur disebelah Bapak yang masih sibuk di depan mesin ketiknya.
Aku menyukai kamar kerjanya. Dengan aroma yang menguar dari botol tinta dan tumpukan kertas yang tak ku mengerti isinya. Selain ayunanku, disitulah kuhabiskan waktu bermainku. Meja kerja Bapak menghadap jendela besar, dan diluarnya terdapat selasar kecil. Kelak di situlah aku pertama kali menangis untuknya.
Ada 3 hal yang kupastikan kuwarisi dari Bapak. Pemimpi, optimisme yang kadangkala lebay, dan kecintaan pada buku. Kami biasa berlama-lama di toko buku dan sama-sama royal belanja buku. Untuk urusan buku, aku benar-benar merasa sejiwa dengan Bapak. Merasa hanya Bapak yang bisa mengerti bagaimana rasanya lena melihat tumpukan buku. Sebaliknya, hanya aku yang tidak pernah berkomentar dengan kebiasaan bapak membeli koran dan majalah walau kondisi kantongnya sedang kempes.
Selama beberapa tahun, Bapak menjadi urat nadiku. Bapak menemaniku dari tidur, mandi, sampai sekolah. Saat itu aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa Bapak. Hingga kemudian saat yang menyakitkan itu tiba…
Walau masih anak-anak, aku mengerti bahwa Bapak dan Mama bukan pasangan yang serasi. Aku terbiasa menjadi pengantar pesan antara keduanya. Bapak dan Mama tak pernah bertegur sapa kendati mereka hidup dalam satu rumah. Walau begitu Alhamdulillah, tak secuil pun memoriku merekam pertengkaran antara keduanya. Suatu hari kuketahui mereka akan resmi berpisah. Mama bahkan bilang jika Hakim menanyaiku ingin ikut siapa, aku harus bilang ikut mama. Saat itu aku hanya mengangguk mengiyakan. Namun dalam hati aku bimbang, aku tidak dekat dengan mama apalagi jika harus berpisah dengan bapak. Berhari-hari aku menyimpan galau ini dalam hati. Sebagai satu-satunya anak Bapak dan Mama, aku harus berhati-hati memutuskan. Akhirnya dengan berat hati kuputuskan, aku akan ikut mama dengan alasan: kasihan. Pikiran sederhana dari anak usia 7 tahun. Berhari-hari tak ada panggilan dari Hakim dan aku mulai melupakan wacana perpisahan itu.
Dan pada suatu pagi Mama bilang, beberapa hari lagi kami akan berlibur ke Tuban, daerah asal mama. Aku kegirangan, dan kusampaikan kabar itu pada bapak. Bapak manggut-manggut, sempat terbersit keheranan atas reaksinya yang datar tapi aku kadung gembira akan berlibur. Pada hari keberangkatan, Bapak memanggil dan memberiku uang sebesar 50.000 rupiah. Untuk sangu, katanya. Aku makin bungah. Hampir 2 minggu di Pulau Jawa. Masa itu tak ada handphone. Yang artinya 2 minggu tanpa kabar sama sekali dari Bapak. Aku kangen luar biasa. Uang sangu itu kubelikan keyboard mini di Surabaya yang tak sabar ingin kupamerkan pada Bapak.
Saat kepulangan pun tiba. Aku bersemangat sekali, dada rasanya berdebar ingin segera bertemu Bapak. Sampai di depan rumah, sambil menggendong keyboard aku berteriak memanggilnya dan berjalan tergesa melintasi halaman. Bapak tak muncul. Aku semakin keras memanggil dan langkahku kini menuju ke kamar kami. Kamar tempat aku dan Bapak tidur. Langkahku seketika terhenti, menatap nanar pada gulungan kasur. Ada yang menikam jantungku, aku tidak lagi bisa berteriak, tercekat pahit ditenggorokan. Perlahan aku menghampiri lemari kami dan membukanya dengan tangan bergetar. Lemari itu kosong! Tak ada lagi tumpukan baju-baju bapak. Bapak sudah pergi! Tubuh kecilku serasa melayang, bibirku bergetar. Kurasakan kabut mulai membayangi kedua mataku, reflek aku berlari. Sambil memeluk kedua lututku, aku menangis berjam-jam. Menumpahkan kesedihan, amarah, ketakutan, kangen, dan kehilangan. Di selasar itu di depan jendela kamar kerja Bapak…
Bertahun-tahun kemudian, aku belajar untuk berbagi Bapak. Bapak tak lagi milikku semata. Bapak tak lagi menjadi urat nadiku yang utama. Ada Mama yang kini berganti membentuk karakterku. Mama yang menempaku untuk tegak berdiri, yang mengajak untuk tetap melihat realitas dan yang terpenting mengajariku apa arti tanggunggjawab. Meski begitu, Bapak tetaplah sosok masa kecilku. Walau tak bersama, aku masih menjadi curahan rahasia-rahasia hidupnya. Mungkin karena aku tak pernah menghakimi. Sekali pernah kutegaskan sikapku, Bapak marah tak alang kepalang. Mungkin ia shock karena sebelum ini tak pernah aku menyudutkannya. Sementara di sisi lain aku juga tak kalah shock. Baru sekali ini kulihat Bapak gusar padaku. Aku sedih dan kecewa. Dan Mama bersikap bijak menengahi, right or wrong … He is your father. Apa adanya Beliau, Bapak tetaplah Bapakku..
Hubungan kami kembali pulih. Dan aku mulai memasuki zona nyaman. Dengan tampilannya yang segar, gesit dan bersemangat… aku abai oleh usia Bapak. Tidak pernah sekalipun, sedetik pun terbersit di benakku Bapak akan meninggalkanku (lagi). Dan telepon dari mama maghrib itu bak petir di telingaku. Dalam hitungan jam, Bapak pergi (lagi-lagi) begitu saja. Tanpa sakit, tanpa pesan. Seperti deja vu, rasa sakit itu datang lagi. Tubuhnya yang terbujur kaku di ruang tamu menyambut kepulanganku. Kalau saja diijinkan aku pasti meraung menumpahkan amarahku… Kenapa Bapak selalu pergi begitu saja tanpa pesan? Rasa itu kembali bergulung-gulung menyesakkan dada. Sedih, marah, kehilangan…semua berpilin jadi satu. Menohok, menyakitkan. Tertahan oleh iman yang membuatnya menjadi tangis diam-diam.
Ya, hingga detik ini aku masih kerap menangis diam-diam. Persis seperti bertahun-tahun silam. Jika dulu orang-orang memujiku sebagai bocah kecil yang tegar, mungkin kini mereka heran dengan tawaku yang sudah terdengar lagi dalam 24 jam setelah kepergian Bapak. Mungkin cuma Bapak yang mengerti, betapa rapuhnya aku kehilangannya. Betapa terhempasnya aku atas kepergiannya yang selalu tiba-tiba. Seakan Beliau yakin, bahwa aku akan segera pulih walau dengan tertatih. Persis seperti ucapannya, ‘Kamu adalah keduanya.’
In Memoriam: BDC-I miss you…