Kembali

Beberapa orang teman menanyakan kapan saya akan memposting tulisan di blog saya lagi. Pernyataan bahwa mereka menunggu dan menyukai tulisan-tulisan saya sungguh membuat saya tersentuh. Saya bukan seorang tokoh ternama, bukan seleb atau sosialita bukan juga motivator terkenal yang tulisannya ditunggu dan dinikmati orang banyak. Saya bukan siapa-siapa. Jadi perhatian beberapa teman tadi bagi saya adalah sebuah penghargaan dan pujian yang luar biasa. Terimakasih.

Entah telah berapa lama saya anggurkan blog saya tersebut. Waktu telah bergulir sedemikian cepat. Sengaja saya mengambil waktu untuk merenung, mengingat apa saja yang telah saya lewati selama waktu kosong tersebut. Mengejutkan ketika menyadari bahwa saya telah kehilangan banyak hal selama saya berhenti menulis. Saya kehilangan kenikmatan untuk menikmati bacaan, kefasihan merangkai kata dan yang terpenting kepekaan hati mengamati hal-hal kecil disekitar saya.

Saya ibu rumah tangga yang dunianya hanya sekitar rumah dan anak-anak. Ketika saya mampu mengolah rasa, membaca banyak hal kecil yang ada disekitar dan menjadikannya ide tulisan, saat itulah saya sedang menghaluskan budi. Lalu ketika saya memprosesnya menjadi sebuah tulisan dengan membaca berbagai sumber, itulah masa dimana saya tengah memperkaya dunia kecil saya. Saya seorang ibu rumah tangga dan saya membutuhkan menulis untuk kembali menghidupkan hidup saya.

Itu sebabnya malam ini saya kembali. Dengan postingan pertama yang sederhana sebagai perentas jalan. Bismillah.

When you’re describing
A shape, or sounds, or tint;
Don’t state the matter plainly,
But put it in a hint;
And learn to look at all things,
With a sort of mental squint

-Charles Lutwidge Dodgson-

Hitunglah Berkatmu

Baru saja usai menonton film Rachel Getting Married. Film yang sangat menyentuh dan mengesankan. Saya menarik sebuah pelajaran dari film tersebut. Betapa keegoisan bisa mengacaukan segalanya. Melukai perasaan orang-orang disekitar kita. Egois adalah ketika kita menjadikan diri kita pusat segalanya dan memaksa orang lain untuk mengikuti. Terlebih ketika kita merasa bahwa hidup yang sedang kita jalani jauh lebih menderita dari hidup orang lain. Itulah keegoisan sejati. Ketika kita melakukannya itulah sikap terburuk yang kita lakukan.

Mengasihani diri sendiri.. merasa paling menderita, paling malang sedunia adalah sikap yang sangat mengintimidasi orang lain. Memaksa orang lain hanya memperhatikan diri kita seorang membuat hidup penuh dengan emosi negatif. Pada saat itu kita sama sekali tidak memperhatikan hal lain kecuali penderitaan dan kesedihan yang kita alami. Kita kecewa ketika orang lain berkata,” aku juga punya penderitaan lho..”. Kita menganggap mereka telah mengabaikan kita. Kita menjadi marah dan sedih karena merasa dikucilkan. Kita bahkan dengki pada kebahagiaan orang lain. Tanpa kita sadari, hidup kita menjadi penuh kepahitan. Pada titik yang paling kritis, kita bahkan bisa berpikir untuk menyudahi hidup. Semua hal berubah menjadi sangat buruk dan hidup terlihat sangat kacau. Begitu menghimpit seakan-akan tak ada segaris celah pun supaya kita bisa memperbaikinya.

Padahal celah itu ada, bahkan sebenarnya berbentuk sebuah pintu. Pintu yang lebar agar kita bisa keluar dan memandang semua masalah yang kita alami itu dari luar. Ya, kadangkala kita harus keluar, mencari udara segar, mengatur nafas sejenak lalu kembali melongok ke dalam jiwa, benarkah seberat itu masalah yang tengah kita hadapi? ataukah pikiran kita yang menjadikannya begitu?

Seringkali kita terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran kita sendiri. Lupa bahwa kita tidak seorang diri menjalani hidup di dunia ini. Yang artinya bahwa, problema bukan hanya milik kita seorang. Semua orang yang hidup memilikinya. Tapi reaksi ketika menghadapi problema itu yang menyebabkan orang satu tampak lebih bahagia hidupnya dibanding orang yang lain. Kita terlalu sibuk dengan kesedihan yang kita ciptakan sendiri hingga lupa menghitung berkat yang telah kita miliki. Menghitung berkat adalah cara yang ampuh untuk meringankan masalah. Masalah tidak berubah, masih dalam ukuran yang sama ketika kita terakhir memikirkannya. Yang berubah adalah cara pandang kita. Menghitung berkat akan mengisi relung hati kita dengan rasa syukur. Rasa syukur akan menenangkan jiwa yang resah. Dan pikiran jernih lahir dari jiwa yang tenang. Dengan pikiran jernih jalan keluar pasti akan lebih mudah terlihat.

Berhentilah mengasihani diri sendiri dan hitunglah berkatmu! 🙂

Tak ada yang bisa menyakiti hatimu kecuali dirimu sendiri-Mahatma Gandhi

Mengejar Mimpi

Berapa banyak dari kita yang memiliki cita-cita? Mungkin sebagian besar dari kita akan mengacungkan jari. Dan seberapa banyak dari mereka yang memperjuangkan cita-cita tersebut? Saya yakin, pasti tak banyak.
jika kita kembali ke masa kanak-kanak dulu, mungkin kita akan terkejut, betapa mudahnya kita menjawab pertanyaan,”apa cita-citamu?”. Bahkan jika kita mengingat masa kuliah , kita akan terperangah melihat aura optimis yang begitu jelas memancar dari wajah ketika kita bicara tentang cita-cita. Lalu kini setelah tahunan waktu berlalu, adakah kita berada di tempat yang kita cita-citakan tersebut?! Sedikit dari kita akan menjawab, ya. Sebagian yang lain mungkin berkata: tidak dan sisanya bahkan melupakannya.

Waktu memiliki banyak pengalih. Tuntutan hidup, kesibukan pekerjaan, perkawinan…apa saja bisa mengalihkan. Cita-cita bisa berubah bahkan dilupakan.

Mungkin kita perlu diam sejenak. Mengatur nafas dan kembali menoleh ke belakang. Mengingat kembali apa yang pernah kita impikan. Seperti saat kita membersihkan gudang. Menepiskan debu tebal yang menutupi barang-barang lama yang pernah kita miliki. lalu tak sengaja kita menemukan barang yang kita sayangi….dan munculah rasa itu. Semangat baru dari kepingan lama hidup kita yang kita abaikan sekian lama.

Ya, kita membutuhkan energi baru itu!

Hidup adalah rangkaian panjang banyak peristiwa yang terkadang menjenuhkan. Mengambil kembali cita-cita kita dan meletakkannya lagi di depan perjalanan akan membuat hidup menjadi lebih HIDUP. Memang sih, tidak mudah untuk meretas kembali jalan tersebut. Tapi hal itu bukan sesuatu yang mustahil. Apalagi jika alasan ketidakmungkinan itu adalah rasa takut dan kekhawatiran yang sumbernya dari diri sendiri. Kita tidak menyadari bahwa rasa takut dan khawatir itu seringkali bahkan lebih buruk dari kenyataannya. Yang kita butuhkan hanyalah keberanian dan keyakinan. Keberanian untuk menyuarakan apa cita-cita dan mimpi kita. Keberanian untuk memulai satu langkah saja pada jalan yang sangat ingin kita lewati itu. Hanya itu. Berani menyatakan dan memulai. Ketika keberanian sudah di tangan, cita-cita butuh peneguhan. Sebuah keyakinan yang mampu meneguhkan langkah-langkah yang telah dan akan kita buat. Sebuah cita-cita tak akan pernah sampai jika kita tak meyakininya. Meresapkannya dalam-dalam pada benak dan jiwa akan memberikan energi dan semangat untuk mencapainya. Jadi sekali lagi inilah dua hal yang harus kita miliki untuk memulainya kembali: Keberanian dan Keyakinan!

Jangan berhenti untuk bermimpi dan jangan ragu untuk bercita-cita. Jika tak memilikinya di masa lalu, buatlah mimpi dan cita-cita yang baru. Terus semangat untuk menjalani hidup dengan baik dan bernilai.
Hidup yang menghidupkan, bagi sesama dan diri sendiri. 🙂

If you stop dreaming you stop living life. But if you are following your dreams, age is not a problem – Paulo Coelho

25/10/09

Untuk Mengingatmu

Entah sudah berapa lama tak ada postingan baru untuk blog ini. Semangat menulisku rasanya menguap bersama kepergiannya. Bahkan untuk tulisan kali ini aku harus memaksakan diri. Awalnya aku tak ingin berbagi. Cukup antara aku dan dirinya saja kenangan manis itu terasa. Hingga kuingat ucapannya setelah mengunjungi blogku,’ teruslah menulis dan buatlah sebuah buku.’ Teruslah menulis.. Itulah keinginan lelaki itu. Lelaki yang biasa kupanggil Bapak, yang mengalirkan darahnya di tubuhku. Selama hidupnya, keinginan dirinya untuk hidupku begitu tinggi, hingga kekecewaannya terasa ketika aku memilih jalanku sebagai Ibu Rumah Tangga. Matanya menerawang dan berkabut setiap kali ia utarakan kekecewaan hatinya itu. Dan aku (yang mewarisi jiwa pemberontak dari mama) cuma tersenyum lebar, tak bergeming dengan jalan hidup pilihanku.

Mama dan Bapak berpisah ketika aku masih kanak-kanak setelah sebelumnya melalui waktu yang dingin dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dalam masa-masa perang dingin itulah, kedekatanku dengan Bapak tercipta. Jika aku mengingat masa kecilku, sosoknyalah selalu hadir dalam setiap keping peristiwa yang tersimpan. Bapak menemaniku tidur setiap malam, dengan rutinitas mendongeng sebelum tidur. Membacakan cerita wayang dari serial wayang di surat kabar yang diklipingnya dengan telaten. Dari situlah aku mengenal nama tokoh-tokoh pewayangan, termasuk Sembadra dan Srikandi. ‘Aku nggak mau jadi Sembadra!’ ujarku dengan keras suatu malam ketika Bapak mengatakan kelak aku harus berbudi pekerti seperti Sembadra. ‘Kenapa?’ tanya Bapakku. ‘Lelet!’ aku menjawab sekenanya. ‘Aku Srikandi aja ah,’. Bapakku tertawa,’Hatimu terlalu lembut untuk Srikandi,’. ‘Trus aku apa dong..,’ aku mulai merajuk. Bapak terdiam seolah berpikir, lalu katanya,’Kamu adalah keduanya.’

Bapak sangat setia padaku dan aku juga sangat tergantung padanya. Setiap malam tanpa protes Bapak menggosok punggungku. Sebuah kebiasaan yang kadang masih diteruskan oleh suamiku hingga kini. Aku bahkan tidak bisa tidur jika Bapak tidak ada disampingku. Ketika tengah malam aku terbangun dan kudapati dirinya tidak ada, aku akan berteriak memanggilnya sekuat tenaga. Lalu dia menyahutiku dari ruang kerjanya dengan jawaban yang sama, ‘Ya Ndhuk, bentar lagi Bapak selesai.’ Jika sedang tak sabar aku akan menyusul ke ruang kerjanya dengan terkantuk-kantuk. Lalu ndelosor tertidur disebelah Bapak yang masih sibuk di depan mesin ketiknya.

Aku menyukai kamar kerjanya. Dengan aroma yang menguar dari botol tinta dan tumpukan kertas yang tak ku mengerti isinya. Selain ayunanku, disitulah kuhabiskan waktu bermainku. Meja kerja Bapak menghadap jendela besar, dan diluarnya terdapat selasar kecil. Kelak di situlah aku pertama kali menangis untuknya.

Ada 3 hal yang kupastikan kuwarisi dari Bapak. Pemimpi, optimisme yang kadangkala lebay, dan kecintaan pada buku. Kami biasa berlama-lama di toko buku dan sama-sama royal belanja buku. Untuk urusan buku, aku benar-benar merasa sejiwa dengan Bapak. Merasa hanya Bapak yang bisa mengerti bagaimana rasanya lena melihat tumpukan buku. Sebaliknya, hanya aku yang tidak pernah berkomentar dengan kebiasaan bapak membeli koran dan majalah walau kondisi kantongnya sedang kempes.

Selama beberapa tahun, Bapak menjadi urat nadiku. Bapak menemaniku dari tidur, mandi, sampai sekolah. Saat itu aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa Bapak. Hingga kemudian saat yang menyakitkan itu tiba…

Walau masih anak-anak, aku mengerti bahwa Bapak dan Mama bukan pasangan yang serasi. Aku terbiasa menjadi pengantar pesan antara keduanya. Bapak dan Mama tak pernah bertegur sapa kendati mereka hidup dalam satu rumah. Walau begitu Alhamdulillah, tak secuil pun memoriku merekam pertengkaran antara keduanya. Suatu hari kuketahui mereka akan resmi berpisah. Mama bahkan bilang jika Hakim menanyaiku ingin ikut siapa, aku harus bilang ikut mama. Saat itu aku hanya mengangguk mengiyakan. Namun dalam hati aku bimbang, aku tidak dekat dengan mama apalagi jika harus berpisah dengan bapak. Berhari-hari aku menyimpan galau ini dalam hati. Sebagai satu-satunya anak Bapak dan Mama, aku harus berhati-hati memutuskan. Akhirnya dengan berat hati kuputuskan, aku akan ikut mama dengan alasan: kasihan. Pikiran sederhana dari anak usia 7 tahun. Berhari-hari tak ada panggilan dari Hakim dan aku mulai melupakan wacana perpisahan itu.
Dan pada suatu pagi Mama bilang, beberapa hari lagi kami akan berlibur ke Tuban, daerah asal mama. Aku kegirangan, dan kusampaikan kabar itu pada bapak. Bapak manggut-manggut, sempat terbersit keheranan atas reaksinya yang datar tapi aku kadung gembira akan berlibur. Pada hari keberangkatan, Bapak memanggil dan memberiku uang sebesar 50.000 rupiah. Untuk sangu, katanya. Aku makin bungah. Hampir 2 minggu di Pulau Jawa. Masa itu tak ada handphone. Yang artinya 2 minggu tanpa kabar sama sekali dari Bapak. Aku kangen luar biasa. Uang sangu itu kubelikan keyboard mini di Surabaya yang tak sabar ingin kupamerkan pada Bapak.

Saat kepulangan pun tiba. Aku bersemangat sekali, dada rasanya berdebar ingin segera bertemu Bapak. Sampai di depan rumah, sambil menggendong keyboard aku berteriak memanggilnya dan berjalan tergesa melintasi halaman. Bapak tak muncul. Aku semakin keras memanggil dan langkahku kini menuju ke kamar kami. Kamar tempat aku dan Bapak tidur. Langkahku seketika terhenti, menatap nanar pada gulungan kasur. Ada yang menikam jantungku, aku tidak lagi bisa berteriak, tercekat pahit ditenggorokan. Perlahan aku menghampiri lemari kami dan membukanya dengan tangan bergetar. Lemari itu kosong! Tak ada lagi tumpukan baju-baju bapak. Bapak sudah pergi! Tubuh kecilku serasa melayang, bibirku bergetar. Kurasakan kabut mulai membayangi kedua mataku, reflek aku berlari. Sambil memeluk kedua lututku, aku menangis berjam-jam. Menumpahkan kesedihan, amarah, ketakutan, kangen, dan kehilangan. Di selasar itu di depan jendela kamar kerja Bapak…

Bertahun-tahun kemudian, aku belajar untuk berbagi Bapak. Bapak tak lagi milikku semata. Bapak tak lagi menjadi urat nadiku yang utama. Ada Mama yang kini berganti membentuk karakterku. Mama yang menempaku untuk tegak berdiri, yang mengajak untuk tetap melihat realitas dan yang terpenting mengajariku apa arti tanggunggjawab. Meski begitu, Bapak tetaplah sosok masa kecilku. Walau tak bersama, aku masih menjadi curahan rahasia-rahasia hidupnya. Mungkin karena aku tak pernah menghakimi. Sekali pernah kutegaskan sikapku, Bapak marah tak alang kepalang. Mungkin ia shock karena sebelum ini tak pernah aku menyudutkannya. Sementara di sisi lain aku juga tak kalah shock. Baru sekali ini kulihat Bapak gusar padaku. Aku sedih dan kecewa. Dan Mama bersikap bijak menengahi, right or wrong … He is your father. Apa adanya Beliau, Bapak tetaplah Bapakku..

Hubungan kami kembali pulih. Dan aku mulai memasuki zona nyaman. Dengan tampilannya yang segar, gesit dan bersemangat… aku abai oleh usia Bapak. Tidak pernah sekalipun, sedetik pun terbersit di benakku Bapak akan meninggalkanku (lagi). Dan telepon dari mama maghrib itu bak petir di telingaku. Dalam hitungan jam, Bapak pergi (lagi-lagi) begitu saja. Tanpa sakit, tanpa pesan. Seperti deja vu, rasa sakit itu datang lagi. Tubuhnya yang terbujur kaku di ruang tamu menyambut kepulanganku. Kalau saja diijinkan aku pasti meraung menumpahkan amarahku… Kenapa Bapak selalu pergi begitu saja tanpa pesan? Rasa itu kembali bergulung-gulung menyesakkan dada. Sedih, marah, kehilangan…semua berpilin jadi satu. Menohok, menyakitkan. Tertahan oleh iman yang membuatnya menjadi tangis diam-diam.

Ya, hingga detik ini aku masih kerap menangis diam-diam. Persis seperti bertahun-tahun silam. Jika dulu orang-orang memujiku sebagai bocah kecil yang tegar, mungkin kini mereka heran dengan tawaku yang sudah terdengar lagi dalam 24 jam setelah kepergian Bapak. Mungkin cuma Bapak yang mengerti, betapa rapuhnya aku kehilangannya. Betapa terhempasnya aku atas kepergiannya yang selalu tiba-tiba. Seakan Beliau yakin, bahwa aku akan segera pulih walau dengan tertatih. Persis seperti ucapannya, ‘Kamu adalah keduanya.’

In Memoriam: BDC-I miss you…

Duniaku di Dunia Maya

Perkenalan saya dengan dunia maya dimulai lebih dari 10 tahun silam. Waktu itu saya masih duduk di bangku kuliah. Pacar yang saat itu bekerja di Kalimantan dan kebetulan di bidang telekomunikasi menganjurkan saya mulai menggunakan internet untuk berkomunikasi. Pada saat itu yang namanya warnet masih jarang, kalaupun ada fasilitasnya pun sekedarnya. Termasuk warnet pertama pilihan saya. Letaknya tepat di depan SMU De Britto. Saya yang selalu merasa takut pada pengalaman pertama masuk dengan hati deg-degkan. Ruangannya tak seberapa luas dengan penyekat-penyekat yang membaginya menjadi beberapa bilik. Tak ada kursi untuk duduk, PC diletakkan di atas meja kecil dan rendah. Walhasil kita harus duduk di lantai dengan kaki selonjor di bawah meja. Lalu dengan ragu-ragu saya mendatangi mas penjaga warnet, ” Mas, saya diajarin ya..”. Untung saja si mas bersedia. Pengalaman pertama saya hari itu berjalan lancar. Sebuah akun di mailcity sebagai hasilnya.

Kunjungan berikutnya saya merasa lebih pede. Kali ini saya ingin mencoba memasuki dunia chatting. Kembali saya meminta bantuan si mbak warnet. Si mbak memberi intruksi singkat cara menggunakan mirc. Saya manggut-manggut lalu dengan stil yakin masuk ke bilik favorit saya. Sempat saya melirik ke penghuni bilik sebelah. Dua murid dengan seragam De Britto, yang sibuk cekakak-cekikik. Pasti ngeliat yang saru-saru! batin saya. Tak lama saya mulai sibuk mengingat dan mempraktekkan intruksi si mbak tadi. Klik sana..klik sini..selesai deh! Saya tinggal menunggu layar menampilkan nama-nama chatter tergabung di channel. 5 menit… 10 menit…15 menit… kening saya mulai berkerenyit. Kok lama amat tampilnya. 20 menit… lemot amat sih koneksinya, pikir saya kesal. Lebih dari 30 menit…tiba-tiba, sebuah kepala menyembul dari bilik sebelah..”mbak, connectnya di klik dulu dong!” . Oalah….

Setelah perkenalan saya dengan mirc yang agak memalukan tadi, dimulailah sepak-terjang saya di dunia perchattingan. Seiring dengan itu warnet-warnet mulai bermunculan. Kini pilihan warnet untuk saya mulai beragam. Setidaknya ada 4 warnet berdiri di sekitar tempat kost saya. Ada yang menawarkan harga sangat miring, tapi kenyamanannya minim. Ada yang harganya sedikit lebih, tapi tempat lebih nyaman plus sedia pop mie. Yang paling sip, warnet favorit saya. Lokasinya tepat di sebelah kampus, ruangannya besar dengan interior nyaman, penjaganya ramah, kecepatannya oke dan harga bersaing. Saking favoritnya, sahabat saya Dewi, sampai tahu harus kemana mencari saya jika saya tak ada di kost. Persiapan saya untuk chatting pun tak kalah heboh. Kebetulan saat itu saya tengah menjomblo. Jadi saya bisa bebas merdeka chatting sampai punggung gempor! Kalau niat akan menghabiskan waktu yang lama, biasanya saya sangu sendok, tisu kering dan tisu basah. Di tengah perjalanan menuju warnet saya mampir ke warung untuk membeli nasi bungkus. Setelah berjam-jam bas bus ngobrol tak tentu arah dengan sesama chatter, perut biasanya keroncongan menagih haknya. Pada saat itulah nasi bungkus yang sudah mbededeg itu dibuka dan disantap. Soal rasa tidak lagi jadi masalah, yang penting kenyang! Jika setiap orang punya masa kedanan (tergila-gila) akan sesuatu dalam hidupnya, mungkin inilah masa-masa kedanan saya…

Karena sebagian besar waktu saya saat itu habis di warnet, tidak heran jika beberapa pengalaman hidup saya dipengaruhi oleh dunia chatting. Pertama kali berjilbab setelah ‘dikuliahi’ dengan tajam oleh seorang ustad asal Malaysia. Dimaki seorang teman di forum terbuka pun pernah saya alami. Belum termasuk beberapa tindakan bodoh yang saya lakukan bersama sesama chatter. Tapi yang paling spektakuler adalah ketika saya menelpon salah seorang chatter di #Mushola, “Halo Mas Hilal, mau tidak menikah dengan saya?”.

Aku dan Gadis Kecilku

Beberapa waktu lalu saya membeli dan membaca sebuah buku psikologi parenting berjudul “Personality Plus for Parenting:Understanding What Makes Your Child Tick, Florence Littauer. Buku ini mengulas mengenai tipe-tipe orang tua dan anak-anak, dan bagaimana bentuk hubungan antara tipe-tipe tersebut. Ada tes yang harus dilakukan untuk menentukan tipe seperti apakah kita berikut penjelasan akan seperti apa tipe tersebut sebagai orangtua. Ada 4 Tipe: Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Plegmatis. Setelah mengerjakan tes tersebut ternyata skor menempatkan saya pada tipe Melankolis. Dan Icha, gadis kecil saya itu di tipe Sanguinis.

Melankolis sebagai orangtua dan Sanguinis sebagai anak, sebuah hubungan yang bisa saling mengisi atau justru menjadi sebuah hubungan yang paling tidak stabil. Karena kami berdua bisa dibilang sangat berbeda. Sebagai orangtua yang melankolis, saya adalah orang tua yang penuntut, apik, detail, pamrih dalam pujian dan kurang hangat. Sementara sebagai anak sangunis, Icha adalah anak periang dan senang bersenang-senang. Tidak well-organized, pelupa, memperhatikan penampilan dan sangat suka pujian. Dari sifat dasar itu saja sudah mulai tampak bibit konflik antara saya dan Icha. Bisa jadi meskipun belum tampak sekarang, akan muncul kelak ketika ia beranjak remaja. Dan membaca buku ini juga membuat ingatan saya berputar menghadirkan kembali kesalahan-kesalahan saya sebagai seorang ibu.

Kesalahan pertama, pamrih dalam pujian. Selama ini saya bukan tipe orangtua yang mudah melontarkan pujian pada prestasi akademik. Buat saya, setiap anak berkewajiban melakukan yang terbaik untuk pelajarannya sebagai bentuk tanggungjawabnya atas pendidikan yang bisa dinikmatinya dengan mudah dan nyaman. Dan prestasi itu datang seiring usaha terbaik. Jadi buat saya prestasi akademik adalah hal yang biasa-biasa saja. Bukan sesuatu yang terlalu istimewa untuk dipuja-puji. Seringkali setiap Icha menyodorkan kertas ulangannya dan yang tertera bukan angka 10, biasanya saya akan berkomentar, “…hemmm…bagus. Tapi kenapa sih nggak bisa 10?” atau “Kalo dapet 10 pasti lebih keren!”. Menyebalkan ya?! Ini kerap saya lakukan jika penyebab kesalahannya adalah ketidaktelitiannya (yang menjadi ciri khas sanguinis) ketika mengerjakan soal. Sementara di satu sisi sanguinis menjadikan pujian sebagai motivator. Dan minimnya pujian lambat-laun bisa membuatnya ‘Ilfil’ untuk berprestasi. Dengan tingginya standar prestasi yang saya tuntut dari Icha, seandainya hal itu terjadi tanpa saya tahu penyebabnya, dapat dibayangkan betapa depresinya saya sebagai ibu.

Kesalahan kedua, saya bukan orang tua yang hangat. Walaupun saya termasuk ibu yang sering melucu, tapi saya juga ‘dingin’ untuk beberapa situasi. Efeknya? Tentu saja, Icha tidak bersikap hangat pada situasi dimana dia seharusnya bersikap hangat. Contohnya, pagi ini sahabat Icha, Reyna, terjatuh dari sepeda. Reyna menangis keras, sementara anakku hanya berdiri mematung melihatnya. Sampai kemudian suamiku menyuruh Icha untuk membantu Reyna berdiri. Beberapa saat kemudian kami menegur sikap tak acuh Icha. Memberinya nasehat untuk lebih peka dan sebagainya. Sampai kemudian saya terdiam karena teringat sesuatu. Sesuatu yang menohok rasaku sebagai seorang Ibu.

Saya tidak pernah membantunya berdiri ketika terjatuh kala bermain. Hanya sekali ketika tangisnya terdengar begitu keras , saya berlari tergopoh-gopoh menghampiri dan membopongnya. Saat itu naluri keibuan saya merasakan ada yang berbeda dari tangisannya. Hanya sekali. Selainnya, jika Icha jatuh, saya hanya memandangnya dengan pandangan yang memerintahkannya untuk berdiri lagi. Lalu berkata,” jatuh ketika bermain itu biasa, tidak apa-apa. Nggak ada yang luka, kan?”. Bagaimana bisa saya mengharapkan anak saya untuk membantu temannya yang terjatuh, sementara saya tidak mengajarkan hal yang sama. Bahkan ada kesalahan yang lebih parah yang pernah saya lakukan. Saat itu usia Icha sekitar 3,5-4 th dan kami masih menetap di rumah kontrakan di lingkungan yang amat sangat padat penduduk. Di sana anak-anak bermain dengan bebas, dalam artian siapa yang kuat dia berkuasa. Ada seorang anak sebut saja A yang meski balita, tapi sangat preman. Suka memukul, menyakiti dan mengganggu sebayanya. Sore itu anakku jadi korban, A memukul perut Icha dengan keras. Icha lalu menangis dan berjalan pulang. Saya yang kebetulan berdiri di depan rumah menanyakan kenapa ia pulang sambil menangis. Sambil sesenggukan Icha bercerita. Dan jawabanku,” Kalau begitu, jangan pulang! Sana balik, cari temannya dan balas! Jangan mau kalah!” Wajah Icha langsung pucat tapi wajah saya yang tanpa senyum itu membuatnya berbalik arah. Dari kejauhan saya melihat gadis kecil itu (masih dengan menangis) menghampiri seorang anak lelaki bertubuh besar lalu meninju wajahnya! Anak lelaki itu tampak terkejut tak percaya. Sampai dirumah saya katakan pada Icha untuk tidak membalas jika yang menyakiti adalah anak yang umurnya lebih muda atau lebih kecil badannya, tapi jika anak itu lebih besar jika ia disakiti atau diperlakukan tak pantas, Icha harus berani melawan. Tidak seorangpun boleh melakukan bullying pada dirinya. Itulah tujuan saya, saya tidak ingin Icha membiarkan dirinya diperlakukan tak pantas oleh orang lain. Saya ingin dia memiliki keberanian untuk menjaga dirinya sendiri sejak dini. Sehingga orang lain memiliki rasa segan pada dirinya. Meski tujuan saya itu tercapai (karena keesokan harinya dan seterusnya, setiap kali bertemu Icha, si A akan memanggil ‘Ichaa..’ dengan suara manis dan wajah tersenyum..), saya telah mengabaikan hal yang paling penting. Perasaan Icha. Itulah kesalahannya, saya mengabaikan kebutuhan emosi anak saya pada saat itu. Tujuan saya benar, tapi saya tidak yakin sikap saya itu yang dibutuhkan anak saya. Mungkin saat itu ia ingin saya memeluknya terlebih dahulu. Sementara pada hari itu saya merasa puas karena merasa telah berhasil mengajarkan keberanian pada anak saya, memori anak saya mungkin telah mencatat satu kejadian, betapa dingin hati mamanya!

Dua kesalahan diatas adalah sebagian dari banyak kesalahan yang selama ini telah saya lakukan sebagai orangtua. Mendidik anak adalah proyek seumur hidup yang akan dipertanggungjawabkan pada Pemberi Kehidupan kelak. Untuk itu sebagai orangtua kita harus mau terus belajar untuk menjadi lebih baik. Mengakui kesalahan dan berkaca pada kesalahan itu agar tidak terulang kembali. Menyadari diri sebagai orangtua yang bertipe melankolis lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya, saya mulai belajar untuk menurunkan standar kesempurnaan. Belajar untuk lebih hangat mengungkapkan perasaan sebab itulah yang dibutuhkan anak saya. Mulai menyiapkan diri bahwa kelak gadis kecil saya itu mungkin akan memilih dunianya sendiri yang berbeda dengan keinginan saya. Tapi diatas segala keinginan saya atas dirinya, saya ingin Icha hidup bahagia dengan benar. Bahagia dalam ridho Tuhan dan nilai kemanusiaan. Saya tidak mungkin menjadi mama yang sempurna, tapi saya akan terus berusaha menjadi mama terbaik bagi kehidupannya. Kelak saya mungkin akan meminta Icha membaca buku itu agar ia pun bisa mengenali kelebihan dan kelemahan dirinya. Agar kami bisa bekerja sama. Karena hubungan yang sempurna sejatinya adalah sebuah kerjasama, bukan semata pengorbanan dari salah satu pihak.

Antara Manohara, Prita dan Ambalat

Manohara, Prita dan Ambalat adalah tiga topik berita yang paling hangat dibicarakan pekan ini. Saat ini, siapa yang tidak mengenal Mano? Model cantik semampai yang kendati menikah dengan seorang pangeran toh hidupnya tak seindah kisah Cinderella. Mulai dari ibu rumah tangga, karyawan, sampai kanak-kanak pun familiar dengan wajah cantik dan kisahnya yang mengharu biru. Media massa dalam hal ini televisi menjadikannya rajin wira-wiri menyambangi layar kaca kita. Tak tanggung-tanggung, semua stasiun televisi memiliki jadwal wawancara langsung dengannya. Semua aspek hidupnya ‘dikorek’ untuk kemudian dipaparkan kepada pemirsa. Bahkan sebuah stasiun televisi berinovasi dengan Twitter sehingga pemirsa bisa menanyakan secara langsung hal-hal kecil mengenai Mano. Walhasil muncul pertanyaan “is that Christian Louboutin?” ..dan..”Berapa buah koleksi Tas Hermes milik Mano?” Ckckck….. luar biasa kan, pemirsa televisi kita?! Begitu jeli dan sangat sadar merek (baca: hedonis). Itulah gambaran masyarakat Indonesia yang tidak hanya plural dalam ragam budaya tapi juga strata ekonomi. Namun keberbedaan dan dan keberagaman itu berhasil digiring televisi pada satu titik sikap, simpati bagi Manohara. Inilah kekuatan Media massa (baca: televisi) yang pertama, kemampuan mempermainkan rasa dari pemirsanya.

Belum lagi reda Kisah Manohara, muncul satu nama baru yang juga mengharu biru. Prita. Ibu muda yang dipenjara karena mengeluhkan pelayanan sebuah institusi melalui email di sebuah mailist. Media massa mengeksposnya. Tak ayal, dukungan dan simpati mengalir deras bagi pembebasannya. Termasuk para capres dan cawapres . Bahkan dengan sigap salah seorang capres berkomentar bahwa Prita adalah korban neolib (halah!). Apa sebabnya institusi yang dimaksud oleh Prita begitu kelabakan dengan email Prita? Itu karena media yang dipilih Prita dalam hal ini email, memiliki kemampuan publikasi yang cepat dan relatif mudah diteruskan. Mudah untuk dikaburkan keakuratannya karena bisa diedit oleh siapa saja yang mendapatkan email tersebut . Dan ketika itu terjadi, sukar untuk dilacak kembali untuk dimintai pertanggungjawabannya. Ini akan berbeda jika keluhan disampaikan melalui surat pembaca misalnya. Di satu sisi, media jugalah yang membantu kebebasan Prita. Melalui gencarnya berita di televisi , talkshow-talkshow, media massa seakan memobilisasi dukungan bagi Prita. Mobilisasi adalah kemampuan media massa yang kedua.

Last but not least, Ambalat. Topik hangat yang pernah muncul beberapa tahun yang lalu. Setelah sebelumnya media dengan gegap gempita memberitakan kehidupan Manohara dengan Sang Pangeran Kelantan, berita ketegangan antara Indonesia-Malaysia mengenai Ambalat bak memiliki benang merah yang berhubungan. Padahal jelas antara Ambalat dan Manohara memiliki kapasitas persoalan yang berbeda. Tapi media (lagi-lagi) dapat menjadikan keduanya dalam satu momentum. Membungkusnya dalam sebuah kemasan yang berjudul harga diri bangsa. Inilah kemampuan media massa yang terbesar dan sekaligus paling berbahaya yakni, membentuk opini publik.

Manohara, Prita dan Ambalat, ketiganya adalah peristiwa yang berbeda. Namun ketiganya digerakkan oleh kekuatan yang sama yakni, media massa. Yang membuat mereka terhubung satu sama lain dan dengan kehidupan kita, para penikmat media. Dan sebagai penikmat media seringkali kita tidak menyadari bahwa pikiran, pendapat bahkan sikap kita dipengaruhi oleh media. Media massa apapun bentuknya adalah teman kita dalam keseharian yang memiliki pengaruh teramat besar.